TRADISI NIKAH MAYIT PADA MASYARAKAT JAWA PERSPEKTIF KAIDAH AL-‘ADAH MUHAKKAMAH (Studi Kasus di Desa Kaligede Kecamatan Senori Kabupaten Tuban)
Keywords:
al-'Adah Muhakkamah, Tradition of Marriage of the DeadAbstract
Abstrak
Tradisi nikah mayit merupakan tradisi akad nikah di depan jenazah orang tua yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kaligede. Adapun pelaksanaannya adalah ketika ada orang tua yang meninggal dunia sebelum tiba hari pernikahan anak yang ditetapkan. Pernikahan anak tersebut harus diajukan dan dilakukan pada hari meninggalnya orang tua, atau pernikahan harus diundur selama 1(satu) tahun dalam kalender Jawa, karena sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua dan harapan dapat disaksikan, serta apabila tidak dilakukan khawatir pernikahan tersebut akan mendapat bala’ atau tidak bahagia. Tradisi nikah mayit demikian dianggap bersinggungan dengan hukum Islam karena akan membuat pemakaman jenazah tertunda dan adanya kepercayaan akan hal buruk terjadi, maka kaidah al-’a>dah muḥakkamah menjadi landasan dasar untuk mengetahui keabsahan dari tradisi tersebut. Penelitian dilakukan melalui pendekatan studi kasus dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan teknik pengumpulan data melalui observasi serta wawancara, kemudian data direduksi dan disajikan serta menarik kesimpulan. Hasil penelitian tradisi nikah mayit pada masyarakat Jawa perspektif al-’a>dah muḥakkamah di Desa Kaligede Kecamatan Senori Kabupaten Tuban adalah tradisi akad nikah di depan jenazah orang tua yakni ayah, ibu, kakek, dan nenek sebagai bentuk kehati-hatian atas kepercayaan bahwa kehidupan setelah pernikahan tidak akan tentram dan bahagia atau akan mendapatkan bala’ serta tradisi nikah mayit termasuk al-’a>dah shahih karena telah memenuhi syarat al-’a>dah muh}akkamah. Adapun dalam upaya menjaga keutuhan dari nenek moyang, tradisi tersebut dianggap sebagai suatu budaya yang menjunjung tinggi sikap hormat atau ta’dhim terhadap orang tua.
Abstract
The tradition of the corpse marriage is a tradition of marriage contract in front of the bodies of the parents carried out by the people of Kaligede Village. The implementation is when a parent dies before the child's wedding day is set. The marriage of the child must be proposed and carried out on the day of the death of the parents, or the marriage must be postponed for 1 (one) year in the Javanese calendar, because as a form of respect for the parents and hope can be witnessed, and if it is not carried out it is worried that the marriage will get a blessing or be unhappy. The tradition of marrying the dead is considered to intersect with Islamic law because it will delay the funeral of the dead and there is a belief that bad things will happen, so the rule of al-'a>dah muḥakkamah is the basic basis for knowing the validity of the tradition. The research was carried out through a case study approach using qualitative descriptive methods and data collection techniques through observation and interviews, then the data was reduced and presented and conclusions were drawn. The results of the research on the tradition of the marriage of the dead in the Javanese society from the perspective of al-'a>dah muḥakkamah in Kaligede Village, Senori District, Tuban Regency is the tradition of the marriage contract in front of the bodies of the parents, namely the father, mother, grandfather, and grandmother as a form of caution on the belief that life after marriage will not be peaceful and happy or will get bala' and the tradition of the marriage of the dead including al-'a>dah sahih because it has fulfilled the requirements of al-'a>dah muh}akkamah. As for the effort to maintain the integrity of the ancestors, the tradition is considered a culture that upholds respect or ta'dhim towards parents.
