EDUKASI BAGIAN TUBUH YANG TIDAK BOLEH DISENTUH PADA ANAK USIA DINI UNTUK PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL DI DESA PRAMBANGAN
Keywords:
edukasi seksual, Anak Usia Dini, , perlindungan anak, kekerasan seksual, , pendekatan partisipatifAbstract
Kekerasan seksual terhadap anak usia dini merupakan permasalahan serius yang membutuhkan penanganan preventif secara sistematis dan komprehensif. Data dari berbagai lembaga perlindungan anak menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku kekerasan seksual berasal dari lingkungan terdekat anak, seperti keluarga, guru, atau teman sebaya. Anak-anak, khususnya usia sekolah dasar, menjadi kelompok yang sangat rentan karena keterbatasan pengetahuan, keberanian, serta kurangnya pemahaman terhadap tubuh mereka sendiri. Untuk mengurangi risiko tersebut, edukasi mengenai bagian tubuh yang tidak boleh disentuh menjadi langkah penting dan mendesak dalam mencegah terjadinya kekerasan seksual. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas pendekatan edukatif dalam meningkatkan pemahaman anak usia dini terhadap perlindungan diri dari kekerasan seksual. Metode penelitian yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), yang melibatkan guru, orang tua, dan murid di UPT SDN 26 Gresik dan TPQ Desa Prambangan. Proses edukasi dilakukan melalui penyuluhan interaktif, pemutaran video animasi “Kujaga Diriku”, lagu edukatif, permainan peran (simulasi), serta diskusi kelompok. Pendekatan ini dirancang untuk memberikan pemahaman secara menyenangkan dan mudah dicerna anak-anak, tanpa menimbulkan ketakutan atau kecemasan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman anak terhadap bagian tubuh pribadi yang tidak boleh disentuh orang lain, seperti mulut, dada, alat kelamin, pantat, dan paha. Anak-anak juga mulai menunjukkan keberanian dalam menolak sentuhan yang tidak pantas, serta memiliki keinginan untuk melaporkan kejadian mencurigakan kepada guru atau orang tua. Keterlibatan aktif orang tua dan guru terbukti sangat berpengaruh dalam keberhasilan program ini, meskipun masih ditemukan tantangan berupa sikap tabu sebagian orang tua dalam membicarakan isu seksual dengan anak. Oleh karena itu, pendekatan sensitif dan edukatif juga perlu diterapkan pada orang tua sebagai bagian dari intervensi menyeluruh. Kesimpulannya, edukasi seksual sejak usia dini dengan pendekatan partisipatif dan media yang ramah anak sangat efektif dalam membentuk pemahaman dan keterampilan protektif anak terhadap kekerasan seksual. Kolaborasi antara sekolah, guru, dan keluarga perlu diperkuat untuk menciptakan lingkungan yang aman, mendukung, dan sadar terhadap pentingnya perlindungan anak dari berbagai bentuk kekerasan seksual.

